Senin, 26 Agustus 2019

MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN DISPLIN SEKOLAH  









Disusun Oleh :


REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD


DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019


RINGKASAN MATERI KELOMPOK 11
MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN DISPLIN SEKOLAH  

A. Pengertian Displin Sekolah Dan Masyarakat 

1. Disiplin di Sekolah
    Yaitu kedisiplinan siswa yang dapat dilihat dari ketaatan (kepatuhan) siswa terhadap aturan (tata tertib) yang berkaitan dengan jam belajar di sekolah, yang meliputi jam masuk sekolah dan keluar sekolah, kepatuhan siswa dalam berpakaian, kepatuhan siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan lain sebagainya. Semua aktifitas siswa yang dilihat kepatuhannya adalah berkaitan dengan aktifitas pendidikan di sekolah, yang juga dikaitkan dengan kehidupan di lingkungan luar sekolah. Dalam pelaksanaan disiplin, harus berdasarkan dari dalam diri siswa. Karena tanpa sikap kesadaran dari diri sendiri, maka apapun usaha yang dilakukan oleh orang di sekitarnya hanya akan sia-sia. Kedisiplinan mesti diterapkan secara tegas, adil dan konsisten. 
    Aturan disiplin diterapkan tanpa pandang bulu dan berlaku bagi masyarakat sekolah. Ketidakadilan dalam menegakkan disiplin hanya akan membuat ketidakjelasan dan kebingungan bagi siswa serta hilangnya kewibawaan dan kepercayaan semua pihak terhadap sekolah., Ketika kedisiplinan mulai menampakkan pertumbuhannya, sama seperti biji tanaman yang baru tumbuh, benih itu mesti dijaga dan dirawat dengan penuh kesabaran. Sebaiknya hindari menggunakan ancaman-ancaman dan kekerasan karena hal itu hanya akan menjadi panasnya terik matahari yang akan menghanguskan benih yang sedang tumbuh itu. Perlu dipakai cara-cara yang selaras dengan perkembangan dan kebutuhan siswa sehingga mereka semakin jatuh cinta pada kegiatan belajar. Dengan cara ini, kedisiplinan akan disadari oleh semua pihak di sekolah. Dari situlah setiap individu di dalam lembaga pendidikan itu belajar hidup bersama dan belajar mengasah kepekaan moral mereka.

2. Disiplin di masyarakat
    Disiplin dimasyarakat yaitu mematuhi dan menjalankan segala tata tertib yang berlaku ditengah-tengah masyarakat guna membangun kehidupan bermasyarakat yang tertib, harmonis, serta meningkatkan kualitas masyarakat tersebut dari segala sudut pandang.


B. Membina hubungan sekolah dan masyarakat
    Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien. Berikut adalah jenis-jenis hubungan sekolah dan masyarakat :
1. Hubungan edukatif, merupakan hubungan kerjasama dalam hal mendidik, yaitu antara guru dan orang tua di dalam keluarga. Hubungan ini di maksutkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip dan pertentangan yang dapat menggakibatkan keragu-raguan pada diri anak atau murid. Cara kerjasama tersebut dapat direalisaskan dengan mengadakan pertemuan yang direncanakan secara periodik antara guru-guru di sekolah dengan orang tua murid.

2. Hubungan kultural, ialah usaha kerjasama antara sekolah dengan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan adanya hubungan kerjasama yang fungsional antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kuikulum sekolah disesusikan dengan kebutuhan dan tuntunan perkembangan masyarakat.

3.  Hubungan institusional, yakni hubungan kerjasama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi-instansi resmi lain. Dengan adanya hubungan ini, sekolah dapat meminta bantuan dari lembaga lain, baik berupa tenaga pengajar, pemberi ceramah, dan pengembangan materi kurikulum, maupu bantuan yang berupa fasilitas.

C. Contoh hubungan sekolah dengan masyarakat

1. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Terkait Kedisiplinan
hubungan antara sekolah dan orang tua tersebut maka manfaat yang diharakan diperoleh adalah:
a. Orang tua siswa mengetahui tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah,
b. Sekolah mengetahui semua kegiatan orang tua dan para siswa di rumah,
c.  Orang tua siswa mau memberi perhatian yang sangat besar dalam menunjang kegiatan-kegiatan sekolah.

2.  Hubungan sekolah dengan Instansi terkait
Sekolah perlu membina hubungan baik secara timbal balik dengan instansi terkait, instansi terkait itu seperti Lurah/ Kepala Desa, Puskesmas, Camat, Polsek, Koramil, LKMD, dan Posyandu. Hubungan yang dijalin dan upaya yang perlu dilaksanakan oleh sekolah, antara lain sebagai berikut:
a.  Menginformasikan program sekolah
b. Ikut serta dalam kegiatan yang diadakan pemerintah, sepanjang tidak mengganggu proses belajar mengajar,
c. Pada saat yang diperlukan, Kepala Sekolah atau guru yang ditunjuk mengadakan kunjungan ke Instansi Pemerintah sebagai salah satu cara pendekatan dari pihak sekolah,
d. Sekali-kali dapat mengundang Pejabat Pemerintah d luar Depdikbud sebagai pembina dalam upacara bendera.











DAFTAR PUSTAKA


Asep Suryana .(2005). Makalah TECHNOLOGIES FOR RESTRUCTURED
CLASSROOMS, disampaikan dalam lokakarya .Universitas Negeri Yogya.

Asep suryana. 2006. Bahan belajar mandiri Manajemen kelas. Universitas Pendidikan
Indonesia

MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
MENCIPTAKAN SUASANA KELAS YANG EFEKTIF




Disusun Oleh :


REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD


DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019


RINGKASAN MATERI KELOMPOK 10
MENCIPTAKAN SUASANA KELAS YANG EFEKTIF


A. MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN BAGI SISWA

a.      Kondisi Belajar yang  Efektif
   Guru sebagai pembimbing diharapkan  mampu menciptakan kondisi yang strategi yang dapat membuat peserta didik nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran tersebut. Dalam menciptakan kondisi yang baik, hendaknya guru memperhatikan dua hal: pertama, kondisi internal merupakan kondisi yang ada pada diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatan, keamanannya, ketentramannya, dan sebagainya. Kedua, kondisi eksternal yaitu kondisi yang ada di luar pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan serta keadaan lingkungan fisik yang lain.
            Untuk dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya ruang belajar harus bersih, tidak ada bau-bauan yang dapat mengganggu konsentrasi belajar, ruangan cukup terang, tidak gelap dan tidak mengganggu mata, sarana yang diperlukan dalam belajar yang cukup atau lengkap. 

  Dalam mewujudkan kondisi pembelajaran yang efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini:

 1.        Melibatkan Siswa secara Aktif
Aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, antara lain :
a.  Aktivitas visual, seperti membaca, menulis, melakukan eksprimen.
b.  Aktivitas lisan, seperti bercerita, tanya jawab.
c. Aktivitas mendengarkan, seperti mendengarkan penjelasan guru, mendengarkan pengarahan guru.
d.   Aktivitas gerak, seperti melakukan praktek di tempat praktek.
e.    Aktivitas menulis, seperti mengarang, membuat surat, membuat karya tulis.
Aktivitas kegiatan pembelajaran siswa di kelas hendaknya lebih banyak melibatkan siswa, atau lebih memperhatikan aktivitas siswa. Berikut ini cara meningkatkan keterlibatan siswa :
Tingkatkan partisifasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan berbagai teknik mengajar.Berikanlah materi pelajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.Usahakan agar pembelajaran lebih menarik minat siswa. Untuk itu guru harus mengetahui minat siswa dan mengaitkannya dengan bahan pembelajaran.

 2.Menarik Minat dan Perhatian Siswa
    Kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar.Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran erat kaitannya dengan sifat, bakat dan kecerdasan siswa. Pembelajaran yang dapat menyesuaikan sifat, bakat dan kecerdasan siswa merupakan pembelajaran yang diminati.

 3. Membangkitkan Motivasi Siswa
   Motif adalah semacam daya yang terdapat dalam diri seseorang yang dapat mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Sedang motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Tugas guru adalah bagaimana membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar. Berikut ini beberapa cara bagaimana membangkitkan motivasi siswa :
a)  Guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya;
b)  Pada awal kegiatan pembelajaran, guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, sehingga siswa terpancing untuk ikut serta didalam mencapai tujuan tersebut.
c)  Guru berusaha mendorong siswa dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
d) Guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dengan usahanya sendiri;
e) Guru selalu berusaha menarik minat belajar siswa.
f)    Sering-seringlah memberikan tugas dan memberikan nilai seobyektif mungkin.

 4.  Memberikan pelayanan individu Siswa
   Perlunya keterampilan guru di dalam memberikan variasi pembelajaran agar dapat diserap oleh semua siswa dalam berbagai tingkatan kemampuan, dan disini pulalah perlu adanya pelayanan individu siswa.
Memberikan pelayanan individual siswa bukanlah semata-mata ditujuan kepada siswa secara perorangan saja, melainkan dapat juga ditujukan kepada sekelompok siswa dalam satu kelas tertentu. Sistem pembelajaran individual atau privat, belakangan ini memang cukup marak dilakukan melalui les-les privat atau melalui lembaga-lembaga pendidikan yang memang khusus memberikan pelayanan yang bersifat individual.

 5. Menyiapkan dan Menggunakan berbagai Media dalam Pembelejaran.
    Alat peraga/media pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pembelajaran yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung yang yang dibantu dengan sejumlah alat peraga dengan memperhatikan dari segi nilai dan manfaat alat peraga tersebut dalam membantu menyukseskan proses pembelajaran di kelas.
Di dalam menyiapkan dan menggunakan media atau alat peraga, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut :
Alat peraga yang digunakan hendaknya dapat memperbesar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diasjikan.
Alat peraga yang dipilih hendaknya sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan individual dalam kelompok.
Alat yang dipilih hendaknya tepat, memadai dan mudah digunakan.


B. MENCIPTAKAN SUASANA BELAJAR YANG MENYENANGKAN 

1.   Ciptakan iklim yang nyaman buat anak didik Anda
     Iklim yang nyaman akan menghilangkan kecanggungan siswa, baik sesama guru maupun antar siswa sendiri. Hal ini juga bisa mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, sehingga komunikasi antara pendidik dan anak didik dapat terbangun. Sebagai pengajar, Anda dapat menjelaskan kepada siswa bahwa tidak akan ada siswa lain yang akan mengejek ketika ia bertanya. Beri motivasi kepada siswa bahwa dengan bertanya, akan memudahkannya untuk lebih mengetahui tentang sesuatu hal daripada hanya diam mendengarkan.
2. Dengarkan dengan serius setiap komentar atau pertanyaan yang diajukan oleh siswa Anda. Jika siswa Anda mengajukan pertanyaan, sebisa mungkin fokus dan memperhatikannya. Meski sederhana, hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri siswa karena ia merasa diperhatikan. Seringkali siswa merasa kurang percaya diri sehingga enggan untuk memberikan kontribusi di dalam kelas. Nah, tugas Anda sebagai pengajar, membangun kepercayaan diri siswa dengan menunjukkan perhatian-perhatian saat siswa merasa sedang ingin didengarkan.
3. Jangan ragu memberikan pujian kepada siswa
            Anda juga bisa mencoba dengan memuji setiap komentar yang diajukan oleh anak didik Anda. Misalnya, "Oh, itu ide yang sangat bagus" ,atau "Pertanyaan kamu bagus, itu tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”.
4. Beri pertanyaan yang mudah dijawab
            Jika hal di atas belum juga berhasil untuk mengajak siswa memberikan komentar atau pertanyaan, giliran Anda untuk mengajukan pertanyaan memancing yang bisa membuat anak didik Anda tidak lagi bungkam di dalam kelas. Pastikan pertanyaan Anda mampu dijawab oleh siswa, sehingga saat menjawab secara tidak langsung melatih siswa untuk berbicara. Saat siswa sudah mulai merespon, beri senyum kepada siswa yang sudah berkomentar. Hal ini akan mengurangi rasa canggung yang biasa ia perlihatkan.
5.  Biarkan siswa mengetahui pelajaran sebelum kelas dimulai
            Minta agar para siswa mempelajari bahan yang nantinya akan Anda tanyakan. Sehingga, ia akan mempersiapkannya terlebih dulu.  Jika saat anda bertanya dan para siswa tidak merespon, ubah format pertanyaan anda yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".
6.      Controlling
            Kontrol para siswa dengan alat kontrol yang Anda miiliki. Gunanya adalah untuk mengetahui seberapa banyak siswa yang biasanya berpartisipasi dalam kelas. Jika Anda menemukan beberapa siswa yang tingkat partisipasinya dalam kelas sangat kurang, maka ajak ia berkomunikasi secaraa pribadi. Mungkin dengan begitu ia akan merasa percaya diri. Selain itu, jika yang Anda temukan hanyalah permasalahan kurang percaya yang menjadikannya diam selama kelas berlangsung, maka tugas Anda selanjutnya adalah memberi ia tugas yang bisa membantunya untuk berkomunikasi. Misalnya, tugas berpidato dalam kelas.
            Selain itu, keakraban antara guru dan siswa sangat menentukan keberhasilan belajar bagi siswa. Jika hal ini terjalin suasana belajar akan lebih santai dan siswa akan lebih mudah menangkap pelajaran. Siswa tidak akan merasa sungkan bertanya jika mereka tidak mengerti karena salah satu jalan membuat siswa cepat mengerti adalah dengan cara bertanya. Mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik yang lain. Khusus dalam melakukan pembelajaran perorangan perlu diperhatikan kemampuan dan kematangan berfikir peserta didik, agar apa yang disampaikan bisa diserap dan diterima oleh peserta didik. Penguasaan terhadap semua ketrampilan mengajar di atas harus utuh dan terintegrasi, sehingga diperlukan latihan yang sistematis, misalnya melalui pembelajaran mikro.
            Seluruh sekolah yang bertaraf nasional dan internasional, jumlah siswa dibatasi dalam setiap kelas maksimal 32 siswa.
             Hal ini ditetapkan agar guru bisa lebih mudah memberikan pelajaran dengan baik dan siswa juga akan mudah menangkap yang nantinya akan mendapatkan hasil yang baik pula.
Selain itu juga bagian sarana dan prasarana disekolah akan lebih mudah menyediakan alat praktikum sesuai dengan jumlah siswa seperti komputer, alat praktik IPA, peralatan olahraga, labor bahasa dan lain-lain. Dan juga guru menyampaikan materi pembelajaran dikelas dengan menggunakan alat multimedia. Bagi guru yang kreatif mereka membuat animasi karikatur dalam pembelajaran sehingga siswa tidak merasa jenuh. Bagian kurikulum juga harus memikirkan bagaimana agar siswa  juga dapat menerima pembelajaran dengan baik dengan cara menyusun jadwal pelajaran dengan rapi. Dalam satu hari siswa jangan diberikan pelajaran yang berumus, harus diselingi dengan mata pelajaran yang lainnya.

MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
TAHAPAN PENANGGULANGAN DISPLIN KELAS



Disusun Oleh :


REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD

DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019




RINGKASAN MATERI KELOMPOK 9
TAHAPAN PENANGGULANGAN DISPLIN KELAS

 A. Dimensi Pencegahan (preventif),

  merupakan tindakan guru dalam mengatur peserta didik dan peralatan serta format pembelajaran yang tepat sehingga menumbuhkan kondisi yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Jadi, prosedur dalam dimensi pencegahan adalah berupa langkah-langkah yang harus direncanakan guru untuk menciptakan suatu struktur  kondisi yang fleksibel baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Prosedur tindakan pencegahan ini diarahkan pada pelayanan perkembangan tuntutan dan kebutuhan peserta diduk secara individual maupun kelompok yang dapat berupa kegiatan.

B. Dimensi kuratif

 merupakan tindakan terhadap tingkah laku yang menyimpang yang sudah terlanjur terjadi penyimpangan agar penyimpangan itu tidak berlarut-larut. Dalam hal ini guru berusaha untuk menumbuhkan kesadaran akan penyimpangan yang dibuat dan akhirnya akan menimbulkan kesadaran dan tanggung jawab untuk memperbaiki diri melaui kegiatan-kegiatan yang direncanakan dan dapat dipertangjawabkan. Memperhatikan dua dimensi tindakan dalam manajemen kelas, maka langkah-langkah manajemen kelas bertumpu pada prosedur dimensi pencegahan dan prosedur dimensi penyembuhan.

a)      Prosedur dimensi pencegahan
  Tindakan pencegahan adalah tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang mengganggu kondisi optimal brlangsungnya pembelajaran. Keberhasilan dalam tindakan pencegahan merupakan salah satu indicator keberhasilan manajemen kelas. Konsekuensinya adalah guru dalam menentukan langkah-langkah dalam rangka manajemen kelas harus merupakan langkah yang efektif dan efisien. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Merupakan langkah yang mendasar dan strategis karena dengan dimilikinya kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar guru dalam melaksanakan tugasnya. Implikasinya adanya kesadaran diri sebagai guru akan tampak pada sikap guru yang demokratis, sikap yang stabil, kepribadian yang harmonis, dan berwibawa. Penampakan sikap seperti ini akan menumbuhkan respond an tanggapan positif dari pesrta didik.
2.   Peningkatan pesrta didik
Interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran terjadi apabila dua kesadaran, kesadaran guru dan peserta didik bertemu.untuk meningkatkan kesadaran peserta didik maka kepada mereka perlu dilaksanakan hal-hal: memberitahukan akan hak dan kewajiban sebagai peserta didik, memperhatikan kebutuhan dan keinginan peserta didik, serta rasa keterbukaan antara guru dan peserta didik.
3.  Sikap polos dan tulus guru
Peran sngat besar dan berpengaruh dalam menciptakan kondisi optimal proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru hendaknya bersikap polos dan tulus terhadap para pesrta didik. Sikap ini mengandung makna bahwa guru dalam segala tindakannya tidak boleh berpura-pura bersikap dan bertindak apa adanya. Sikap hangat dan terbuka mau mendengarkan harapan dan keluhan peserta didik, akrab dengan guru akan membuka kemungkinan terjadinya interaksi dan komunikasi wajar antara guru dengan pesrta didik.
4.  Mengenal dan menemukan alternative pengelolaan
Untuk mengenal dan menemukan alternative pengelolaan langkah ini menuntut guru: melakukan identifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku pesrta didikyang sifatnya individual maupun kelompok, mengenal berbagi pendekatan dalam manajemen kelas, dan mempelajari guru-guru lainnya yang gagal atau berhasil sehingga dirinya memiliki alternative yang bervariasi dalam menangani berbagai problema manajemen kelas.
5. Menciptakan kontrak social
Penciptaan kontrak social pada dasarnya berkaitan dengan standar tingkah laku yang diharapkan seraya memberi gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya dalammemenuhi kebutuhan peserta didik. Pemenuhan kebutuhan tersebut sifatnya individual dan kelompok dan memenuhi kebutuhan serta tuntutan sekolah. Standar tingkah laku ini di bentuk melalui kontrak social antara sekolah atau guru dan peserta didik.

  Prosedur dimensi penyembuhan (kuratif)

Pada dasarnya langkah-langkah dimensi penyembuhan antara lain sebagai berikut:
1.   Mengidentifikasi masalah
Guru, pada langkah ini melakukan kegiatan untuk mengenal atau mengetahui masalah-masalah manajemen kelas yang timbul dalam kelas. Berdasar masalah tersebut guru mengidentifikasi jenis-jenis penyimpangan sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan itu.
2.  Menganalisis masalah
Guru, pada langkah ini berusaha menganalisis penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang dan sumber-sumber dari penyimpangan itu. Setelah diketemukan hal-hal yang berkaitan denganpenyimpangan tersebut guru kemudian melanjutkan usahanya yaitu menentukan alternatif-alternatif penanggulangan atau penyembuhan penyimpangan itu.
3. Menilai alternatif-alternatif pemecahan
Guru, pada langkah ini adalah menilai dan dan memilih alternative pemecahan masalah berdasar sejumlah alternative yang telah tersusun. Menentukan alternative mana yang tepat untuk menaggulangi penyimpangan pserta didik.
4.  Mendapatkan balikan
Guru, pada langkah ini yang didahului dengan langkah monitoring, melakukan kegiatan kilas balik. Kegiatan kilas balik ini yaitu untuk menilai keampuhan pelaksanaan dari alternative pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan yang direncanakan. Kegiatan kilias balik dapat dilaksanakan dengan mengadakan pertemuan dengan peserta didik.

Jumat, 23 Agustus 2019

MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
PRINSIP- PRINSIP DISIPLIN KELAS 



Disusun Oleh :


REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD


DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019


RINGKASAN MATERI KELOMPOK 8
PRINSIP- PRINSIP DISIPLIN KELAS 


A. SUMBER PELANGGARAN DISIPLIN KELAS 
    Adalah suatu asumsi yang menyatakan bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya untuk mencapai tujuan yaitu pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan manusia meliputi kebutuhan- kebutuhan berikut ini:
a. Kebutuhan fisik ( physical needs) manusia, yaitu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia
b. Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan ( security and safety) yaitu kebutuhan keselamatan dan rasa aman baik fisik maupun perasaan keamanan terhadap masa depan yang dihadapinya
c. Kebutuhan rasa diterima dan cinta kasih yaituberupa kebutuhan mencintai orang lain dan dicintai orang lain, penerimaan, pembenaran, dan cinta orang lain pada dirinya
d. Kebutuhan akan kehormatan harga diri (respect of self esteem) yaitu kebutuhan merasa dirinya berguna bagi orang lain, mempunyai pengaruh terhadap orang lain, dan sebagainya
e. Kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding) terhadap berbagai hal agar individu dapat mengambil berbagai keputusan yang bijaksana terhadap beberapa hal dalam menghadapi dunianya secara efektif
f. Kebutuhan akan keindahan dan aktualisasi diri (beauty and self actualization) yaitu kebutuhan untuk memperoleh pengalaman mengaktualisasikan dirinya dalam dunia nyata secara langsung agar dari pengalamannya ia akan lebih kreatif, toleran dan spontan.
( Maslov dalam Entang dan Raka Joni:24-25).
Sementara itu, gangguan disiplin yang datang dari kelompok peserta didik dapat berupa :
1. Ketidakpuasan atas pekerjaan kelas
Disebabkan oleh tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit, beban terlalu ringan atau terlalu berat, penugasan cenderung kurang terbuka karena mereka tidak siap.
2. Hubungan interpersonal lemah
Dapat terjadi karena pengelompokkan pertemanan atau klik dan peran kelompok sangat lemah.
3. Gangguan suasana kelompok
Disebabkan oleh suasana tercekam kompetisi yang berlebihan dan sangat eksklusif ( kelompok menolak individu yang tidak siap)
4. Pengorganisasian kelompok lemah
Ditandai oleh tekanan otokrasi yang berlebihan atau lemahnya supervisi dan pengawasan, standar perilaku yang terlalu tinggi atau rendah, dan sebagainya
5. Emosi kelompok dan perubahan mendadak
Dapat diakibatkan oleh kelompok memiliki watak atau tempramen kekhawatiran tinggi, kejadian depresi yang mendadak, ketakutan atau kegemparan, serta kelompok dihinggapi rasa bosan dan kurang berminat atau emosionalnya lemah.

B. PERATURAN DAN TATA TERTIP KELAS
   Disiplin merupakan hal penting yang harus ditanamkan pada anak didik di sekolah sedini mungkin. Sekolah adalah tempat utama untuk melatihkan dan memahami pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Dengan peraturan dan tata tertib kelas yang diterapkan setiap hari dan dengan kontrol yang terus menerus maka siswa akan terbiasa berdisiplin.
   Kelas harus mempunyai peraturan dan tata tertib. Peraturan dan tata tertib kelas ini harus dijelaskan dan dicontohkan kepada siswa serta dilaksanakan secara terus menerus. Peraturan dan tata tertib merupakan sesuatu untuk mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada siswa.
    Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi oleh siswa. Misal : siswa harus mendengarkan dengan baik apa yang sedang dikatakan atau diperintahkan oleh guru; menulis jawaban pertanyaan guru jika guru telah memerintahkannya; memberi jawaban jika guru telah menunjuknya.
Tata tertib menunjuk pada patokan atau standar untuk aktivitas khusus. Misal : penggunaan pakaian seragam; mengikuti upacara bendera; peminjaman buku perpustakaan (Suharsimi Arikunto, 1993:122-123).
Peraturan dan tata tertib kelas untuk sekolah dasar seperti yang tercantum dalam Petunjuk Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:79-81) antara lain harus memuat hal-hal berikut ini.
1.      Masuk sekolah
a.  Siswa harus datang ke sekolah selambat-lambatnya 10 menit sebelum pelajaran dimulai.
b. Menaruh tas dan alat tulis lainnya di laci meja masing-masing kemudian keluar kelas.
c. Siswa yang mendapat tugas jaga/piket harus hadir lebih awal.
d.  Siswa yang sering terlambat harus diberi teguran.
e. Siswa yang tidak masuk karena alasan tertentu harus memberi tahu sebelum atau sesudahnya secara lisan atau tulisan.
f.  Guru tidak boleh terlambat atau absen tanpa ijin.
2.      Masuk kelas
a. Siswa segera berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi.
b. Ketua kelas menyiapkan barisan
c.  Siswa masuk kelas satu persatu dengan tertib dan duduk di tempatnya masing-masing.
d.  Guru memeriksa kerapian, kebersihan, dan kesehatan siswa satu persatu; kebersihan kuku, kerapian rambut, kerapian dan kebersihan baju dan sebagainya.
3.      Di dalam kelas
a. Berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang siswa.
b. Memberi salam kepada guru dan pelajaran dimulai.
c. Guru menuliskan siswa yang tidak masuk di papan absen serta alasan/keterangan mengapa tidak masuk.
d. Pada saat pelajaran berlangsung siswa harus tetap tertib, tidak boleh ribut, bercanda atau melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
e.  Siswa tidak boleh meninggalkan kelas tanpa ijin atau alasan tertentu.
f.  Guru juga tidak diperkenankan meninggalkan kelas ketika pelajaran berlangsung walaupun ada siswa sedang mengerjakan tugas di luar kelas.
4.      Waktu istirahat
a. Pada saat bel istirahat berbunyi siswa keluar kelas dengan tertib.
b. Guru keluar kelas setelah semua siswa keluar.
c.  Siswa tidak boleh berada di kelas ketika istirahat.
d. Selama istirahat siswa tidak diperkenankan meninggalkan sekolah tanpa ijin.
e. Pada saat bel masuk lagi berbunyi (setelah istirahat) siswa masuk kelas dengan tertib dan duduk dengan tenang di tempat masing-masing.
f. Sebaiknya guru sudah berada di kelas lebih dahulu menjelang bel masuk berbunyi.
5.      Waktu pulang
 a. Ketika bel pulang berbunyi, pelajaran berakhir, ditutup dengan doa dan salam kepada guru.
b. Guru memberikan nasehat-nasehat, mengingatkan tentang tugas-tugas, pekerjaan rumah dan sebagainya.






DAFTAR PUSTAKA

Muliyani, Azis. 2012. Disiplin kelas di SekolahDasar. 

Pabudiku. 2012.Peraturan dan Tata Tertib Kelas. [Online]. 

Rachman, Maman. 1997. Manajemen Kelas. Semarang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
PRINSIP- PRINSIP DISIPLIN KELAS




Disusun Oleh :

REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD

DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019



RINGKASAN MATERI KELOMPOK 7
PRINSIP- PRINSIP DISIPLIN KELAS

A. PENGERTIAN DISIPLIN
    Disiplin merupakan istilah yang sudah memasyarakat diberbagai instansi pemerintah maupun swasta. Kita mengenal adanya disiplin kerja, disiplin lalu lintas, disiplin belajar dan macam istilah disiplin yang lain. Disiplin secara etimologi berasal dari bahasa latin “ disibel” yang berarti pengikut. Seiring dengan perkembangan bahasa, kata tersebut mengalami perubahan menjadi ‘disipline”yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Berbeda dengan pendapat yang menyatakan bahwa disiplin berasal dari bahasa latin “Disciplina”yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Jadi sifat disiplin berkaitan dengan pengembangan sikap yang layak terhadap pekerjaan. Sekarang ini kata displin telah berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga banyak para ahli baik ahli bahasa maupun sosial dan etika dan estetika memberikan definisi yang berbeda-beda.
Ada beberapa tokoh yang mendefinisikan disiplin sebagai sebuah proses yang harus ditempuh sebagaimana diringkas oleh carapedia.com berikut ini;

   Disiplin merupakan hasil belajar dan mencakup aspek kognitif, afektif, dan behavioral (Toto Asmara). Disiplin merupakan wujud nyata dari penghargaan kita pada diri sendiri dan orang lain (Tim Penulis Grasindo). Disiplin adalah proses pelatihan pikiran dan karakter, yang meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan menumbuhkan ketaatan atau kepatuhan terhadap tata tertib atau nilai tertentu (Andrias Harefa). Disiplin adalah merujuk pada autoriti, keadaan kelas yang teratur, program studi yang sitematik, serta cara penetapan peraturan atau hukuman (R. F. Olivia)

    Dari beberapa definisi tersebut dapat difahami bahwa disiplin adalah serangkaian pelatihan atau pembiasaan yang untuk meningkatknya kemampuan aspek kognitif, afektif dan behavioral serta pengendalian diri yang menjadi habit dalam kehidupan.
Ada juga yang mendefinisikan bahwa disiplin merupakan potensi diri siswa yang perlu diekflor dalam proses pembelajaran yang berlangsung.sebagaiman dipaparkan oleh carapedia.com berikut;
Disiplin merupakan salah satu aspek perkembangan seorang individu yang berkaitan dengan cara untuk mengkoreksi atau memperbaiki dan mengajarkan anak tingkah laku baik tanpa merusak harga diri anak (Euis Sunarti).
     Pada hakekatnya, disiplin merupakan hal yang dapat dilatih. pelatihan disiplin diharapkan dapat menumbuhkan kendali diri, karakter atau keteraturan, dan efisiensi. Jadi secara singkat dapat disimpulkan bahwa disiplin berhubungan dengan pengendalian diri supaya dapat menbedakan mana hal yang benar dan mana hal yang salah sehingga dalam jangka panjang diharapkan bisa menumbuhkan perilaku yang bertanggung jawab
     Berikut ini adalah pengertian dan definisi disiplin sebagaimana dipaparkan oleh carapedia.com adalah sebagai berikut;
Disiplin adalah hubungan tata tertib, tata susila, adab, akhlak, dan kesopanan (Abdullah Sani Bin Yahaya). Disiplin adalah jembatan antara tujuan dan prestasi (Jim Rohn).Disiplin merupakan latihan yang diberikan kepada murid supaya mereka bertindak sesuai dengan peraturan di rumah, sekolah, dan masyarakat (Mizan Adiliah). Disiplin adalah beraneka aturan yang menjadi petunjuk dan pegangan kehidupan beradab suatu masyarakat agar dapat melangsungkan keberadaannya dalam keadaan aman, tertib, serta terkendali berdasarkan hukum dalam semua aspek kehidupan (Sukono) Disiplin adalah tata tertib ( di sekolah, kemiliteran, dsb) atau ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib, dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

B. BENTUK-BENTUK DISIPLIN 
Bentuk- bentuk displin menjadi tiga yaitu :

a.       Kelakuan adalah perbuatan / tingkah laku seseorang dalam kehidupannya.
Misal : Perkelahian, Merokok, Meninggalkan kelas/ sekolah, dan lain-lain. 
b.      Kerajinan adalah suka dan giat serta selalu berusaha melakukan sesuatu.
Misal : Presensi, Tepat Waktu, Upacara, Mengerjakan PR, dan lain-lain.
c.       Kerapian adalah baik, teratur, semua serba siap dan sedia.
Misal : Seragam, Kelengkapan Sekolah, Cara Berpakaian,dan lain-lain.
 Disiplin itu lahir, tumbuh danberkembang dari sikap seseorang di dalam sistem nilai budaya yang telah ada di dalam masyarakat. Terdapat unsur pokok yang membentuk disiplin yakni sikap yang telah ada pada diri manusia dan sistem nilai budaya yang ada di dalam masyarakat. Sikap/attitude tadi merupakan unsur yang hidup didalam jiwa manusia yang harus mampu bereaksi terhadap lingkungannya, dapat berupa tingkah laku / pemikiran. Sedangkan sistem budaya nilai (cultural value system) merupakan bagian dari budaya yang berfungsi sebagai pedoman bagi kelakuan manusia.
 Disiplin itumempunyai tiga aspek yaitu : 23
1. Sikap mental (mental attitude) yang merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil/ pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak.
2.  Pemahaman yang baik mengenai sistem aturan perilaku, norma, etika dan standar yang sedemikian rupa sehingga pemahaman tersebut menumbuhkan pengertian yang mendalam bahwa ketaatan akan aturan tadi merupakan syarat mutlak mencapai sukses.
3. Sikap kelakuan yang wajar menunjukkan kesungguhan hati untuk mentaati segala hal secara cermat dan tertib.











DAFTAR PUSTAKA

M. Hosnan & Suherman. 2013. Kamus Profesional Guru. Jakarta, Yudhistira. 

Priodarminto.1994. Disiplin Kiat Menuju Sukses, Jakarta, Pradika Pramita, 

Said Hamid Hasan, Dkk Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa (Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Pusat Kurikulum-Tahun 2010  2010).

MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS




Disusun Oleh :

REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD

DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019



RINGKASAN MATERI KELOMPOK 6
FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS


A. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR

1. Faktor Internal
      Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
1.  Faktor fisiologis
    Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam.
Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat mempengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu, keadaan tonus jasmani sangat mempengaruhi proses belajar dan perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
2.             Faktor psikologis
      Faktor–faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.
-                 Kecerdasan/intelegensi siswa
-                 Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. 
-          Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. 
-          Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dangan cara yang relatif tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Syah, 2003).
-          Bakat
Faktor psikologis lain yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). 
3.      Konsentrasi Belajar
   Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk  memperkuat perhatian pada pelajaran, guru perlu menggunakan bermacam – macam strategi belajar-mengajar, dan memperhitungkan waktu belajar serta selingan istirahat. Dalam pengajaran klasikal, menurut Rooijakker, kekuatan perhatian selama tiga puluh menit telah menurun. Ia menyarankan agar guru memberikan istirahat selingan beberapa menit. Dengan selingan istirahat tersebut, prestasi belajar siswa meningkat kembali. Turunnya perhatian dan prestasi belajar tersebut yaitu sebagai berikut :
4.      Kebiasaan Belajar
      Dalam kegiatan sehari – hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara lain:
Belajar pada akhir semester
Belajar tidak teratur
Menyia - nyiakan kesempatan belajar
Bersekolah hanya untuk bergengsi
Dating terlambat bergaya seperti pemimpin
Bergaya jantan seperti merokok, sok menggurui teman lain,
Bergaya minta “ belas kasihan “ tanpa belajar. 
  6.    Cita – cita Siswa
      Pada umumnya, setiap anak memiliki suatu cita – cita dalam hidup. Cita – cita itu merupakan motivasi instrinsik. Tetapi, ada kalanya “ gambaran yang jelas “ tentang tokoh teladan bagi siswa belum ada. Akibatnya, siswa hanya berprilaku ikut – ikutan.
  2. Faktor-faktor eksogen/eksternal
   Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan factor lingkungan nonsosial.
1. Lingkungan sosial 
a.      Lingkungan sosial sekolah, seperti guru , administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar.
b.   Lingkungan sosial massyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
c.  Lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.

B. MENGATUR KONDISI KELAS DAN IKLIM BELAJAR SISWA
   
    Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.
pengaturan kondisi kelas dan iklim belajar di pengaruhi oleh :
1. Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran
Ruang tempat belajar harus memungkinkan para peserta didik dapat bergerak leluasa tidak berdesak-desakan sehingga tidak saling menggangu satu sama lainnya pada saat terjadi aktivitas pembelajaran
Besarnya ruang kelas sangat tergantung pada berbagai hal antara lain.
1. Jenis kegiatan (kegiatan pertemuan tatap muka klasikal dalam kelas atau bekerja dengan praktikum)
2.  Jumlah siswa yang melakukan kegiatan
Jika ruangan yang dipakai teratur mempergunakan hiasan, pakailah hiasan yang mempunyai nilai pendidikan dapat secara langsung memberi daya terapi bagi anak-anak pelanggar disiplin
2. Tempat Duduk Siswa Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal.tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang. Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.
3. Ventilasi dan pengaturan cahaya  Suhu, ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada) adalah aset penting untuk terciptamya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
4. Pengaturan penyimpanan barang-barang  Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.Tentu saja masalah pemeliharaan juga sangat penting dan secara periodik harus dicek dan recek. Hal lainnya adalah pengamanan barang-barang tersebut. Baik dari pencurian maupun barang-barang yang mudah meledak atau terbakar. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penciptaan lingkungan fisik tempat belajar adalah kebersihan dan kerapihan. Seyogyanya guru dan siswa turut aktif dalam membuat keputusan mengenai tata ruang, dekorasi dan sebagainya. 

C. KONDISI YANG MEMPENGARUHI IKLIM BELAJAR

1.Tipe kepemimpinan
    Peranan guru, tipe kepemimpinan guru atau administrator akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Tipe kepemimpinan yang lebih berat pada otoriter akan menghasilkan sikap siswa yang submissive atau apatis, tetapi di lain juga akan menumbuhkan sikap yang agresif.
Dengan tipe kepemimpinan yang otoriter siswa hanya aktif kalau ada guru dan kalau guru tidak mengawasi maka semua aktifitas menjadi menurun. Aktifitas proses belajar mengajar sangat tergantung pada guru dan menuntut sangat banyak perhatian guru. Tipe kepemimpinan yang cenderung pada lazier-faire biasanya tidak produktif  walaupun ada pemimpin. Kalau guru ada, siswa lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya ingin diperhatikan. 
2.      Sikap guru
     Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan sesuatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya siswa tapi bukan benci siswa itu sendiri.
3.      Suara guru
      Suara guru, bukanlah faktor yang besar  tapi turut mempengaruhi dalam belajar. Suara yang melengkung tinggi atau senantiasa tinggi atau demikian rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa secara jelas dari jarak yang agak jauh, ini mengakibatkan suasana akan gaduh. Keadaan seperti itu, juga membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak perhatikan. Suara yang relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran. Mereka akan lebih berani mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan sendiri dan lain sebagainya. Tekanan suara hendaknya bervariasi sehingga tidak membosankan siswa mendengarkanya.
4.      Pembinaan hubungan baik
    Pembinaan hubungan baik (report ) antara guru dan siswa dalam masalah manajemen kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru – siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistic, realistik dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukan serat terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya.
5.     Kondisi Organisasi
     Kegiatan rutin yang secara organisasi yang dilakukan baik tingkat kelas maupun pada tingkat sekolah akan dapat mencegah manajemen kelas. Dengan kegiatan secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik. Disamping itu mereka akan terbiasa bertingkah laku secara teratur penuh disiplin pada semua kegiatan yang bersifat rutin itu.



DAFTAR PUSTAKA

Djali, 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta.           Bumi Aksara

Drs. Syaiful Bahri Djamarah,               2002.  Psikologi  Belajar. Jakarta, CV Rineka Cipta.

Lukmanul Hakim, 2010. Perencanaan               Pembelajaran. Bandung, CV Wacana               Prima

Rabu, 21 Agustus 2019


TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA





Disusun Oleh :


REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD


DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019




MATERI KELOMPOK 5
MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA

A. KEBIJAKAN PENANGANAN MASALAH DALAM KELAS

Kebijakan dalam penanganan masalah dalam kelas dengan cara :
1. melakukan pendekatan terhadap siswa
2. pencarian data tentang masalah
3. melakukan konsultasi secara pribadi

B. MACAM-MACAM PERMASALAHAN DALAM MANAJEMEN KELAS 
 Menurut Syaiful Bahri Djamarah faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah dalam manajemen kelas adalah:
1. Pengelompokkan, adanya pengelompokkan siswa berdasarkan kriteria tertentu.
2.    Karakteristik individual siswa.
3. Kelompok pandai merasa terhalangi terhadap kelambananan teman-temannya yang tidak secerdas mereka.
4. Adanya keharusan bagi siswa untuk tenang dan bekerja selama jam pelajaran sehingga akan menimbulkan ketegangan dan kecemasan.
5. Adanya organisasi kurikulum tentang team teaching.

   Menurut Mulyadi timbulnya masalah dalam manajemen kelas dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:[2]
1.    Faktor guru
Beberapa faktor penyebab timbulnya masalah dalam manajemen kelas yang berasal dari guru diantaranya:
a.    Tipe kepemimpinan guru yang otoriter
Tipe kepemimpinan guru dalam mengelola proses belajar mengajar yang otoriter dan kurang demokratis akan meumbuhkan sikap agresif atau pasif dari murid-murid. Kedua sikap murid ini merupakan sumber masalah manajemen kelas.
b.    Format belajar mengajar yang monoton
Format belajar mengajar yang monoton akan menimbulkan kebosanan bagi siswa. Format belajarn yang tidak bervariasi dapat menyebabkan para siswa bosan, kecewa, frustasi dan hal ini merupakan pelanggaran disiplin.
c.    Kepribadian guru
Seorang guru yang berhasil dituntut untuk bersikap adil, hangat, objektif dan fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Sikap yang bertentangan dengan kepribadian tersebut akan menimbulkan masalah manajemen bagi siswa.
d.   Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku siswa dan latar belakangnya.
Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru dengan sengaja memahami siswa dan latar belakangnya.
e.    Terbatasnya pengetahuan guru tentang masalah manajemen dan pendekatan manajemen baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis.
2.    Faktor siswa
Kekurangsadaran siswa dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas dapat merupakan faktor utama penyebab masalah manajemen kelas.
3.    Faktor keluarga
Kebiasaan yang kurang baik di lingkungan keluarga, seperti tidak patuh pada disiplin, tidak tertib, kebebasan yang berlebihan ataupun dikekang berlebihan akan menyebabkan siswa melanggar disiplin di kelas.
4.    Faktor fasilitas
Ruang kelas yang kecil dibanding dengan jumlah siswa dan kebutuhan siswa untuk bergerak dalam kelas merupakan salah satu problema yang terjadi pada manajemen kelas.
Jadi, dapat penulis kemukakan bahwa timbulnya masalah dalam manajemen kelas dapat disebabkan oleh banyak hal

C. SOLUSI DALAM MENGATASI PERMASALAHAN MANAJEMEN KELAS

   Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
a.  Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
b.  Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. Selain itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committedterhadap rencana yang telah dibuat memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat
c.  Group Process Approach : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c) attraction (pola persahabatan); (c) norm; (d)communication; (d) cohesiveness.
d. Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1.      Perintah dan larangan
2.      Penekanan dan penguasaan
3.      Penghukuman dan pengancaman
4.      Pendekatan perintah dan larangan
e.  Pendekatan Permisif : Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.  Tindakan pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
2.      Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
3.      Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4.      Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.
5.      Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
6.      Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
f.      Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan : Sekali lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta didik bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah.Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memikat.

















DAFTAR PUSTAKA

Almasawi,dkk. 2010. Masalah-masalah dalam Manajemen Kelas.
http://tugas-makalah.blogspot.com/2012/06/masalah-masalah-dalam-manajemen-kelas.html. diakses tanggal 20 Februari 2013,Pekanbaru:UINSultan Syarif Kasim Riau
Ekosiswoyo, Rasdi. 2000. Manajemen kelas. Semarang: CV. Ikip.Semarang press
Missmelind, 2011. Pengaturan kondisi dan penciptaan klim belajar yang menunjang.http://missmelind.blogspot.com/2011_03_01_archive.html. diakses tanggal 20 Februari 2013

MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
PRINSIP- PRINSIP MANAJEMEN KELAS




Disusun Oleh :


REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD


DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019



RINGKASAN MATERI KELOMPOK 4
PRINSIP- PRINSIP MANAJEMEN KELAS

A. PENGERTIAN PRINSIP DALAM MANAJEMEN KELAS.

        Untuk mengetahui makna dari prinsip manajemen kelas ini, ada baiknya terlebih dahulu kita membahas sekilas tentang pengertian dari prinsip dan manajemen kelas. Prinsip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah Asas, Dasar.
     Manajemen kelas terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari bahasa Inggris yaitu “Management” yang di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari Manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan,ketatalaksanaan penggunaaan sumber daya secara efektif untuk mencapai  tujuan atau sasaran yang diinginkan.Sedangkan untuk pengertian kelas, penyusun mengambil pendapat dari Hadari Nawawi. Beliau menyatakan pengertian kelas dalam arti sempit dan luas. Berikut pendapatnya:
1.  Kelas dalam arti sempit: ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti Proses Belajar Mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2.   Kelas dalam arti luas: suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.[3]
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud kelas adalah ruangan belajar yang digunakan untuk belajar oleh sekelompok orang dalam waktu sama, tingkatan sama, pelajaran yang sama dan dari guru yang sama.

      Dari pengertian manajemen dan kelas diatas, beberapa para ahli berpendapat tentang pengertian manajemen kelas yaitu:
1.    Menurut DR. Hadari Nawawi
Manajemen Kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas  yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid. 
2.    Drs. Syaiful Bahri Djamarah
Manajemen  Kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.” 
Jadi dapat disimpulkan pengertian manajemen kelas adalah program yang dibuat oleh guru untuk mendayagunakan  secara maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur yaitu: guru, murid dan proses. Sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai secara efektif dan efesien serta mengantisipasi masalah-masalah yang kemungkinan terjadi.
         Setelah mengetahui pengertian prinsip dan manajemen kelas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan  prinsip manajemen kelas adalah acuan yang memiliki pokok dasar berfikir atau bertindak bagi seorang pendidik dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.

B. PERMASALAHAN DALAM PRINSIP MANAJEMEN KELAS

    Berhasilnya manajemen kelas dalam mendukung pencapaian tujuan proses belajar siswa, banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu “faktor-faktor yang melekat pada kondisi fisik kelas dan pendukungnya, serta dipengaruhi oleh faktor non fisik (sosio-emosional) yang melekat pada guru” (Karwati dan Priansya, 2014: 31-32).Kasus-kasus yang dijumpai guru dalam manajemen kelas:
1.   Tingkat penguasaan materi oleh siswa di dalam kelas.
2.      Fasilitas yang diperlukan.
3.      Kondisi siswa.
4.      Teknik mengajar guru.

C. KEBIJAKAN TENTANG PRINSIP MANAJEMEN KELAS

   Kegiatan yang bersifat penyembuhan mengikuti langkah sebagai berikut :
a.  Mengidentifikasi masalah
Pada langkah ini, guru mengenal atau mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas yang timbul dalam kelas. Berdasar masalah tersebut guru mengidentifikasi jenis penyimpangan sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan tersebut.
b.  Menganalisis masalah
Pada langkah ini, guru menganalisis penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang dan sumber-sumber dari penyimpangan itu.Selanjutnya menentukan alternatif-alternatif penanggulangannya.
c.   Menilai alternatif-alternatif pemecahan
Pada langkah ini guru menilai dan memilih alternatif pemecahan masalah yang dianggap tepat dalam menanggulangi masalah.
d.    Mendapatkan balikan
Pada langkah ini guru melaksanakan monitoring, dengan maksud menilai keampuhan pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilihuntuk mencapai sasaran yang sesuai dengan yang direncanakan. Kegiatan kilas balik ini dapat dilaksanakan  dengan ngadakan pertemuan dengan para peserta didik.Maksud pertemuan perlu dijelaskan oleh guru sehingga peserta didik mengetahui serta menyadari bahwa pertemuan diusahakan dengan penuh ketulusan, semata-mata untuk perbaikan, baik untuk peserta didik maupun sekolah.






DAFTAR RUJUKAN


Asep Suryana. (2005). Makalah TECHNOLOGIES FOR RESTRUCTURED
CLASSROOMS, disampaikan dalam lokakarya .Universitas Negeri Yogya.

Asep suryana. 2006. Bahan belajar mandiri Manajemen kelas. Universitas Pendidikan
Indonesia.

M. Entang, T raka Joni an Prayitno.(1985). Pengelolaan Kelas, Proyek Pengembangan
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud

TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang 
PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS







Disusun Oleh :


REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD


DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019





RINGKASAN MATERI KELOMPOK 3
PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS

A. PENGERTIAN PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS 

1.      Pengertian Manajemen
a.       Menurut wikipedia, Mary Parker Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Dari pengertian tentang manajemen oleh Mary Parker Follet ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Manajemen dalam pelaksanaannya dilakukan sesuai proses. Paling tidak ada 4 proses yang dilakukan untuk melakukan suatu manajemen, yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian.
b.      Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
c.       Dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management”George R Terry (1994) mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan  baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Manajemen merupakan pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain.
2.      Pengertian Kelas
a.       Dalam dunia pendidikan, kelas dapat mempunyai beragam makna, yaitu: (1) kelas adalah sekelompok siswa yang sedang mengikuti suatu pembelajaran atau kuliah tertentu; (2) kelas dapat juga diartikan sebagai proses belajar mengajar; (3) kelas adalah bangunan fisik atau ruang kelas, tempat di mana proses belajar mengajar dilakukan; (4) kelas adalah tingkatan sekolah di mana seorang anak belajar.
b.      Menurut Oemar Hamalik, kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapatkan pengajaran dari guru.
d.      Menurut Suharsini Arikunto, kelas adalah sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama.
Berikut ini beberapa pengertian atau definisi manajemen kelas:
a.       Manajemen kelas adalah beragam tingkah laku guru yang kompleks agar pengajarannya menjadi efektif dan efisien. Manajemen merupakan suatu hal dapat membuat siswa terlihat sangat aktif dalam aktivitas pembelajaran di kelas dan mereduksi tingkah laku-tingkah laku yang kontraproduktif dengan proses pembelajaran sehingga guru dan siswa dapat melakukan proses belajar mengajar dengan efisien jika dilihat dari segi waktu. Tanpa manajemen kelas yang efektif proses pembelajaran siswa akan terganggu selama pengajaran berlangsung.
b.      Manajemen kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.

B. SIKAP GURU DALAM MANAJEMEN KELAS
   Menurut  Djamarah (2006 : 185) sikap guru dalam manajemen kelas yaitu 
1.  Hangat dan antusias, guru yang hangat dan akrab pada siswa akan menunjukkan antusias pada tugasnya, 
2. Menggunakan kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan kegairahan siswa untuk belajar, 
3. Bervariasi dalam penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru dan siswa, 
4.  Guru luwes untuk mengubah strategi mengajarnya,
 5. Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif dan
 6. Guru harus disiplin dalam segala hal.

C. PERAN GURU DALAM MANAJEMEN KELAS
     Dalam perananya sebagai pengelola kelas (learning manager) guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek  dari lingkungan sekolah yang perlu di rganisasi. Lingkungan ini di atur dan di awasi agar kegiatan-kegiatan terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap  belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
       Kualitas dan kuantitas belajar siswa di dalam kelas bergantung pada banyaknya faktor,antara lain ialah seorang guru,hubungan pribadi antar siswa di dalam kelas,serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas.
    Sebagai manager guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses imtelektual dan social di dalam kelasya, dengan demikian guru tidak hanya memungkinkan siswa bekerja dan belajar tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif di kalangan siswa
   Tanggung jawab yang lain sebagai manager yang penting bagi guru ialah membimbing pengalaman-pengalaman siswa sehari-hari ke arah self directed behavior. Salah satu menejemen kelas yang baik ialah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi kebergantunganya pada guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatanya sendiri. Siswa harus belajar self control dan self activity melalui proses bertahap. Sebagai manager guru hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil optimal. Sebagai menejer lingkungan belajar,guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah di laksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian.
       Jika di sebutkan secara terperinci tugas guru sebagai pengelola kelas adalah  melaksanakan administrasi kelas, melaksanakan presensi kelas, memilih strategi dan metode pembelajaran yang efektif.

D. MACAM-MACAM PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS

1. Pendekatan Manajerial
     Upaya penyelenggaraan pembelajaran dengan menitikberatkan pada upaya guru untuk mengatur dan mengorganisasi siswa sesuai dengan persepsi guru terhadap siswa, dengan kata lain pendekatan ini dipilih berdasar orientasi guru dan ketercapaian target kurikulum yang harus diselesaikan. Pendekatan ini meliputi:
a.      Pendekatan Kekuasaan atau Otoriter
b.      Pendekatan Ancaman atau Intimidasi
c.       Pendekatan Kebebasan atau Permisif
d.      Pendekatan Demokratis
e.       Pendekatan Resep atau Buku Masak
f.        Pendekatan Instruksional
g.      Pendekatan Transaksional

2.      Pendekatan Psikologikal
  Pendekatan psikologikal lebih menitikberatkan pada pertimbangan bagaimana siswa di kelas dapat dikelola dengan suatu pendekatan tertentu. Suparno (1998: 92, dalam Y. Padmono, 2011) menyatakan ada tiga pendekatan dalam manajemen kelas, yaitu:
a.      Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
b.      Pendekatan Iklim Sosio-Emosional
c.       Pendekatan Kerja Kelompok
d.      Pendekatan keterlibatan Aktif
e.       Pendekatan Elektis atau Pluralistik





                       DAFTAR PUSTAKA

Rusman, 2013. Model-Model Pembelajaran.        Raja Grafindo: Jakarta.

Syahza Almasdi, 2009. Model-Model                      Pembelajaran, FKIP UNRI, Riau.

Usman, Moh. Uzer. (2002). Menjadi guru             profesional. Bandung : Remaja Rosda              Karya.

Nursalim A.R, 2011. Manajemen Kelas.               Pekanbaru: Zanafa Publishing.