Rabu, 31 Juli 2019

TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
TENTANG
MANAJEMEN PEMBELAJARAN



Disusun Oleh :
REFNIA ANDRIANTI
(1620225)
Prodi : 
PGSD


DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP ADZKIA 
PADANG 
2019





MANAJEMEN PEMBELAJARAN

A.  Konsep Manajemen Pembelajaran 
  Proses pembelajaran sangat terkait dengan berbagai komponen yang sangat kompleks. Antara komponen yang satu dengan komponen lainnya memiliki hubungan yang bersifat sistematik, maksudnya masing masing komponen memiliki peranan sendiri-sendiri tetapi memiliki hubungan yang saling terkait. Masing-masing komponen dalam proses pembelajaran perlu dikelola secara baik. Tujuannya agar masing-masing komponen tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini akan terwujud, jika guru sebagai desainer pembelajaran memiliki kompetensi manajemen pembelajaran. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto mengungkapkan bahwa manajemenadalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.

a. Harold Koontz & O’ Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” mengemukakan, “manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain”. 
b. George R. Terry dalam buku dengan judul “Principles of Management” memberikan definisi: “manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”. 
c. G.R. Terri, manajemen diartikan sebagai proses yang khas yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan usaha mencapai sasaransasaran dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
 d. James A. F. Stoner, manajemen diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan upaya (usahausaha) anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 
e. Oei Liang Lie, manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan sumber daya manusia dan alam, terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan  . 
  Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pembelajaran adalah proses pengelolaan dalam kegiatan belajar mengajar yang dimulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan penilaian dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. 

B. Tujuan Manajemen Pembelajaran 
    Tujuan manajemen pendidikan erat sekali dengan tujuan pendidikan secara umum, karena manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Apabila dikaitkan dengan pengertian manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat mencapai tujuan. Tujuan pokok mempelajari manajemen pembelajaran adalah untuk memperoleh cara, teknik dan metode yang sebaik-baiknya dilakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Nanang Fattah berpendapat bahwa: Tujuan ini tidak tunggal bahkan jamak atau rangkap, seperti peningkatan mutu pendidikan/lulusanya, keuntungan/profit yang tinggi, pemenuhan kesempatan kerja membangun daera/nasional, tanggung jawab sosial. Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman.

C. Kebijakan Tentang Manajemen Pembelajaran
  Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan- kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat indonesia menuju terciptanya manusia indonesia berkualitas tinggi dengan peningkatan anggaran.
Meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam peningkatan pendidikan.
Melakukan pembaruan sistem pendidikan termasuk pembaharuan pendidikan maupun kurikulum, berupa diservasi kurukulum untuk melayani peserta didik.

D. Peran Guru Dalam Manajemen Kelas 
           Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas Telah dijelaskan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 ayat 1 tentang guru dan dosen, yang dimaksud guru adalah “pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.
         Menurut Hamzah B. Uno pendidik atau guru adalah Orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.Kegiatan guru didalam proses pembelajaran meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan proses belajar mengajar dan evaluasi hasil belajar, maka guru dituntut mempunyai kemampuan mengatur proses belajar mengajar yang baik untuk menciptakan situasi yang memungkinkan anak untuk belajar dengan maksimal, dan menjadi titik awal keberhasilan proses pengajaran. Dalam pembelajaran guru mempunyai peranan yang sangat besar, dimana guru harus bisa membantu siswa untuk mencapai tujuan pengajaran, yang dilaksanakan di dalam kelas. Maka untuk menciptakan suasana yang menumbuhkan gairah belajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa, guru memerlukan pengorganisasian proses belajar yang baik di dalam kelas. Program kelas tidak akan berjalan bilamana tidak diwujudkan dalam suatu kegiatan, maka dari itu peranan guru sangat menentukan kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan di antara murid-murid di suatu lembaga pendidikan khususnya kelas. Sehingga guru berkewajiban mewujudkan program tersebut dan bertanggungjawab dalam memberikan pelajaran yang bermakna di kelas. 
        Kegiatan pengelolaan kelas merupakan bahan penting sejak hari pertama di sekolah, dengan berbagai aturan dan prosedur yang dibuat guru secara konsisten akan membuat kelas Nampak berbeda. Begitu juga Anita menyatakan “pencapaian prestasi siswa di akhir tahun ajaran secara langsung berkaitan dengan seberapa jauh menetapkan manajemen prosedur kelas. Guru yang unggul mempertimbangkan waktu, ruang, dan bahan ajar secara serempak untuk menjamin kelas dikelola dengan baik”. Sehingga dalam kegiatan belajar mengajar guru menggunakan seperangkat strategi dalam menciptakan dan mempertahankan kelas agar kondisi lingkungan belajar siswa tetap kondusif dan menyenangkan. Hal ini merupakan suatu cara guru dalam meningkatkan hasil atau prestasi belajar siswa dan akan memberikan efek langsung terhadap keberhasilan belajar siswa.

E. Kode Etik Guru
       Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa, dan negara, serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-undang Dasar 1945, turut bertanggungj awab atas terwujdunya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. 
     Oleh sebab itu, Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan mendominasi dasar-dasar sebagai berikut: 
  1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. 
  2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional. 
  3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan. 
  4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar. 
  5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat di sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan.
  6.  Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya. 
  7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial. 
  8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
  9. Guru melaksanakan segala kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan. 





DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi Arikunto .1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada .
Nanang Fatta. 2001. Landasan ManajemenP endidikan. Bandung. PT. Remaja Rosda Karya.
Nazarudin.2007. Manajemen Pembelajaran. Yogyakarta . Teras.

http://eprints.stainkudus.ac.id/941/5/FILE%205%20BAB%20II.pdf
http://repository.uinsu.ac.id/590/4/BAB_II.pdf
http://repo.iain-tulungagung.ac.id/2123/4/BAB%20II.pdf
http://repo.iain-tulungagung.ac.id/4290/3/BAB%20II%20%28brs%29.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/197803082001122-RITA_MARIYANA/ETIKA_PROFESI_GURU.pdf





Senin, 29 Juli 2019


Manajemen kelas di Sd


Nama: REfnia andrianti
Bp    :    1620225

A. BELAJAR DAN MENGAJAR
1. Hakekat Belajar  dan Mengajar
Terdapat banyak ahli yang berusaha mendefinisikan belajar, diantaranya adalah: 1. James O. Wittaker: “Learning may be difined as the process by which behavior originates or altered training or experience.Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. 2. Cronbach: “Learning is shown by change in behavior as a result of experience” Belajar adalah ditunjukan oleh perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil pengalaman. 3. Howard L. Kingsley: “Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or change through practice or trining”. Belajar adalah proses yang dengannya tingkah laku (dalam arti yang luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktik dan latihan. 4. Chaplin : “Acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience.” Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap atau permanen sebagai akibat latihan dan pengalaman. Keempat rumusan di atas menekankan belajar kepada perubahan perilaku sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. 
Dengan demikian mereka lebih cenderung meninjau belajar sebagai perubahan perilaku dan termasuk dalam tokoh aliran behaviorisme. Definisi belajar yang lebih kompleks adalah sebagaimana diungkapkan oleh Reber yang mendefinisikan belajar dalam dua pengertian berikut; (1) Learning as the process of acquiring knowledge. Belajar adalah sebagai proses memperoleh ilmu pengetahuan; (2)Belajar sebagai suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dengan nada yang sama, Winkle memberikan definisi belajar sebagai berikut: “Belajar adalah suatu proses mental yang mengarah pada suatu penguasaan pengetahuan, kecakapan, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif”.
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirkan interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Di sana semua komponen pengajaran diperankan secara optimal gunu mencapai tujuan pengajaran dilaksnakan.

B. Metode, Keterampilan, dan Pengaturan Pengajaran
 Mengajar adalah tugas yang rumit dan memiliki banyak sisi.Daftar metode atau teknik untuk mengajar akan memberikan banyak diskusi dan contoh, serta pembahasan yang penuh mengenainya akan mengisi berjilid-jilid buku. Namun, mungkin, untuk mengelompokkannya ke dalam beberapa bidang umum dari metode, keterampilan, atau pemahaman yang sangat penting bagi yang efektif. Bagian ini akan membahas beberapa bidang bidang penting ini.
Ketika memutuskan metode mana yang digunakan dalam pengajaran, adalah penting untuk dipertimbangkan karena metode dan persiapan untuk mencapai hasil akhir, bukan hasil akhir itu sendiri. Guru mengambilnya dengan metode yang akan membantu siswa memahami isi, pengajaran, dan asas dari bentuk tulisan suci tertentu yang akan memfasilitasi peneguhan dan penerapan. Tetap mengingat tujuan dari menggunakan keterampilan atau teknik tertentu akan membantu guru mengimplementasikannya dengan cara yang lebih membantu.
Para guru meminta bantuan untuk menyiapkan pertanyaan yang menstimulasi pikiran dan perasaan. Mereka pada umumnya menjawab pertanyaan yang bisa dijawab dengan pertanyaan “ya” atau “tidak,” atau kompilasi menjawab begitu jelas sehingga siswa tidak termotivasi untuk berpikir tentangnya.

C. PRINSIP BELAJAR DAN MENGAJAR

a. prinsip belajar
1.Pengetahuan siswa sebelumnya dapat membantu atau menghambat pembelajaran
2. Bagaimana siswa mengatur pengetahuan mempengaruhi bagaimana mereka belajar dan menerapkan apa yang mereka ketahui.
3. Motivasi siswa menentukan, mengarahkan, dan mendukung apa yang mereka lakukan untuk belajar
4. Untuk mengembangkan penguasaan, siswa harus memperoleh keterampilan komponen, berlatih mengintegrasikannya, dan tahu kapan menerapkan apa yang telah mereka pelajari.
b. prinsip pengajaran
1. Pengajaran yang efektif melibatkan memperoleh pengetahuan yang relevan tentang siswa dan menggunakan pengetahuan itu untuk menginformasikan desain kursus dan pengajaran di kelas kami.
2. Pengajaran yang efektif melibatkan menyelaraskan tiga komponen utama pengajaran: tujuan pembelajaran, penilaian, dan kegiatan pengajaran.
3.  Pengajaran yang efektif melibatkan pengungkapan ekspektasi eksplisit mengenai tujuan dan kebijakan pembelajaran.
4. Pengajaran yang efektif melibatkan memprioritaskan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang kita pilih untuk fokus.

D.  KETERAMPILAN- KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Keterampilan dasar mengajar merupakan berbagai keterampilan dasar yang terkait dengan faktor teknik mengajar. Keterampilan ini harus dimiliki dan dikuasai oleh calon guru. Keterampilan dasar mengajar meliputi :
1. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajarani kegiatan inti pembelajaran. Kegiatan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan siswa siap secara mental untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhir
2. Keterampilan Menjelaskan Menjelaskan adalah memberikan informasi yang diorganisasi secara sistematis kepada siswa.
3. Keterampilan Memberi Penguatan Penguatan adalah tanggapan guru terhadap perilaku siswa yang memungkinkan dapat membesarkan hati siswa agar lebih terpacu dalam interaksi belajar-mengajar.
4. Keterampilan Menggunakan Media dan Alat Pembelajaran. Media dan alat pembelajaran yang dipergunakan dalam proses pembelajaran agar siswa memperoleh kemudahan dalam memahami materi pembelajaran.
5. Keterampilan Menyusun Skenario /embelajaran. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam rangka membelajarkan siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap.
6. Keterampilan Mengadakan Variasi 45 Variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah perubahan yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran yang meliputi gaya belajar, pengunaan media pembelajaran, pola interaksi dan stimulasi.g kita pilih untuk fokus.

D.  KETERAMPILAN- KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Keterampilan dasar mengajar merupakan berbagai keterampilan dasar yang terkait dengan faktor teknik mengajar. Keterampilan ini harus dimiliki dan dikuasai oleh calon guru. Keterampilan dasar mengajar meliputi :
1. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajarani kegiatan inti pembelajaran. Kegiatan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan siswa siap secara mental untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhir
2. Keterampilan Menjelaskan Menjelaskan adalah memberikan informasi yang diorganisasi secara sistematis kepada siswa.
3. Keterampilan Memberi Penguatan Penguatan adalah tanggapan guru terhadap perilaku siswa yang memungkinkan dapat membesarkan hati siswa agar lebih terpacu dalam interaksi belajar-mengajar.
4. Keterampilan Menggunakan Media dan Alat Pembelajaran. Media dan alat pembelajaran yang dipergunakan dalam proses pembelajaran agar siswa memperoleh kemudahan dalam memahami materi pembelajaran.
5. Keterampilan Menyusun Skenario /embelajaran. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam rangka membelajarkan siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap.
6. Keterampilan Mengadakan Variasi 45 Variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah perubahan yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran yang meliputi gaya belajar, pengunaan media pembelajaran, pola interaksi dan stimulasi.
7. Keterampilan Membimbing Diskusi. Diskusi adalah sustu proses interaksi verbal secara teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan tujuan berbagi pengalaman atau informasi, mengkonstruk konsep, mengambil suatu keputusan atau memecahkan masalah.
8. Keterampilan Mengelola Kelas. Mengelola kelas adalah menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal bagi siswa dan mengembalikan ke kondisi belajar yg optimal apabila terdapat gangguan dalam proses pembelajaran.
9. Keterampilan Bertanya. Bagaimana guru menyampaikan pertanyaan kepada siswa dalam Proses Pembelajaran, baik pertanyaan dasar maupun pertanyaan lanjut.
10. Keterampilan Mengevaluasi Evaluasi adalah proses sistematis untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi suatu kegiatan pembelajaran .

E. MACAM MACAM DASAR KETERAMPILAN MENGAJAR
Macam-macam Keterampilan Dasar Mengajar Seorang guru profesional telah mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan dasar mengajar. Dalam keterampilan dasar mengajar tersebut ada 8 keterampilan yang dapat digunakan guru selama proses belajar mengajar yaitu; keterampilan bertanya, keterampilan memberikan penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.
1. Keterampilan Bertanya
 Ada yang mengatakan bahwa “berpikir itu sendiri adalah bertanya”. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenal. Respon yang di berikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir. Dalam proses belajar mengajar, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat akan memberikan dampak positif. Pertanyaan yang baik di bagi manjadi dua jenis, yaitu pertanyaan menurut maksudnya dan pertanyaan menurut taksonomo Bloom. Pertanyaan menurut maksudnya terdiri dari : Pertanyaan permintaan (compliance question), pertanyaan retoris (rhetorical question), pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question) dan pertanyaan menggali (probing question). Sedangkan pertanyaan menurut taksonomi Bloom, yaitu: pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowlagde question), pemahaman (conprehention question), pertanyaan penerapan PRO
Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, guru perlu menunjukkan sikap yang baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Dan harus menghindari kebiasaan seperti : menjawab pertanyaan sendiri, mengulang jawaban siswa, mengulang pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan dengan jawaban serentak, menentukan siswa yang harus menjawab sebelum bertanya dan mengajukan pertanyaan ganda. Dalam proses belajar mengajar setiap pertanyaan, baik berupa kalimat tanya atau suruhan yang menuntut respons siswa sehingga dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, di masukkan dalam golongan pertanyaan. Keterampilan bertanya di bedakan atas keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Komponen-komponen yang di maksud adalah: Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, pemberian acuan/patokan, pemusatan, pemindah giliran, penyebaran, pemberian waktu berpikir dan pemberian tuntunan. Sedangkan keterampilan bertanya lanjut merupakan lanjutan dari keterampilan bertanya dasar yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa, memperbesar pertisipasi dan mendorong siswa agar dapat berinisiatif sendiri. Keterampilan bertanya lanjut di bentuk di atas landasan penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Karena itu, semua komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan keterampilan bertanya lanjut. Adapun komponen-komponen bertanya lanjut itu adalah : Pengubahan susunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan, Pengaturan urutan pertanyaan, Penggunaan pertanyaan pelacak dan peningkatan terjadinya interaksi.
2. Keterampilan Memberikan Penguatan
 Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Penggunaan penguatan dalam kelas dapat mencapai atau mempunyai pengaruh sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan kegiatan belajar serta membina tingkah laku siswa yang produktif. Keterampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh mahasiswa calon guru agar dapat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis. Komponen-komponen itu adalah: Penguatan verbal, diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya. Dan penguatan non-verbal, terdiri dari penguatan berupa mimik dan gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda dan penguatan tak penuh. Penggunaan penguatan secara evektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu kehangatan dan evektifitas, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan respons yang negatif.
3. Keterampilan Mengadakan Variasi
Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang di tujukan untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, serta penuh partisipasi. Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran, yang dapat di kelompokkan ke dalam tiga kelompok atau komponen, yaitu : – Variasi dalam cara mengajar guru, meliputi : penggunaan variasi suara (teacher voice), Pemusatan perhatian siswa (focusing), kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence), mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement), gerakan badan mimik: variasi dalam ekspresi wajah guru, dan pergantian posisi guru dalam kelas dan gerak guru (teachers movement). Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran. Media dan alat pengajaran bila ditunjau dari indera yang digunakan dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat, dan diraba. Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah sebagai berikut : variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids), variasi alat atau bahan yang dapat
4. Keterampilan Menjelaskan
Yang dimaksud dengan keterampilan menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya. Secara garis besar komponen-komponen keterampilan menjelaskan terbagi dua, yaitu : Merencanakan, hal ini mencakup penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada diantara unsur-unsur yang dikaitkan dengan penggunaan hukum, rumus, atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan. Dan penyajian suatu penjelasan, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: kejelasan, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan balikan.
5. Keterampilan Membuka dan Menutup pelajaran
Yang dimaksud dengan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari. Komponen keterampilan menutup pelajaran meliputi: meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, dan mengevaluasi.
6. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
 Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya keterampilan berbahasa.
7. Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas maka perlu diperhatikan komponen keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prefentip) berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran, dan bersifat represif keterampilan yang berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan
 Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa. Komponen keterampilan yang digunakan adalah: keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, keterampilan mengorganisasi, keterampilan membimbing dan memudahkan belajar dan keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Diharapkan setelah menguasai delapan keterampilan mengajar yang telah dijelaskan di atas dapat bermanfaat untuk mahasiswa calon guru sehingga dapat membina dan mengembangkan keterampilan-keterampilan tertentu mahasiswa calon guru dalam mengajar.
Keterampilan mengajar yang esensial secara terkontrol dapat dilatihkan, diperoleh balikan (feed back) yang cepat dan tepat, penguasaan komponen keterampilan mengajar secara lebih baik, dapat memusatkan perhatian secara khusus kepada komponen keterampilan yang objektif dan dikembangkannya pola observasi yang sistematis dan objektif. Dari delapan kompetensi yang telah dijelaskan di atas, yang paling penting bagi guru adalah bagaimana cara guru dapat menggunakan agar proses pembelajaran dapat berjalan baik. Salah satu faktor yang dapat mengukur proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, makin banyaknya jumlah siswa bertanya.

E. Tujuan Keterampilan mengajarT
 Tujuan keterampilan mengajar yaitu supaya guru atau tenanga pendidik dapat memahami hakikat keterampilan dasar mengajar yang dapat dipraktekan di dalam kelas maka guru akan memiliki persiapan mengajar dengan baik dalam menguasai bahan pengajaran dan penguasaan kelas yang baik.




DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun (2010). Panduan Praktik Pembelajaran Micro. UPPL UNY
https://www.cmu.edu/teaching/principles/
https://www.churchofjesuschrist.org/study/manual/gospel-teaching-and-learning-a-handbook-for-teachers-and-leaders-in-seminaries-and-institutes-of-religion/teaching-methods-skills-and-approaches?lang=ind